Potensi Daerah Kota Bima Nusa Tenggara Indonesia
![]() |
| Tugu 0 Kilometer Bima, Nusa Tenggara Indonesia |
Mediabima.id - Kota Bima. Potensi Kota Bima. Informasi tentang Potensi Daerah Kota Bima Nusa Tenggara Indonesia yang perlu diketahui bersama.
Sekilas Kota Bima
Kota Bima, yang oleh masyarakat setempat suku Mbojo disebut Dana Mbojo, adalah kota otonom di bagian timur Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara astronomis, kota ini terletak antara 8°20′–8°30′ Lintang Selatan dan 118°41′–118°48′ Bujur Timur, berbatasan dengan Kecamatan Ambalawi (Kabupaten Bima) di utara dan Kecamatan Palibelo (Kabupaten Bima) di selatan.
Luas wilayah Kota Bima tercatat sekitar 222,25 km², menjadikannya salah satu daerah otonom dengan wilayah terkecil di Provinsi NTB namun berkepadatan penduduk tinggi. Berdasarkan estimasi resmi Kementerian Dalam Negeri/BPS pertengahan 2024, jumlah penduduk Kota Bima tercatat sebanyak 165.113 jiwa dengan kepadatan mencapai 742,92 jiwa/km².
Secara administratif, Kota Bima terdiri dari 5 kecamatan. Kecamatan Asakota merupakan wilayah terluas dengan 69,03 km², sementara Rasanae Barat adalah yang tersempit dengan 10,14 km². Kecamatan Raba tercatat sebagai wilayah dengan penduduk terbanyak, sedangkan Rasanae Timur yang sebagian besar berupa wilayah pegunungan memiliki penduduk paling sedikit.
| Kecamatan | Luas Wilayah | Karakteristik |
|---|---|---|
| Asakota | 69,03 km² (terluas) | Kawasan pesisir dan permukiman |
| Raba | Menengah | Penduduk terpadat, pusat pemerintahan pendukung |
| Rasanae Barat | 10,14 km² (tersempit) | Pusat kota dan perdagangan |
| Rasanae Timur | Menengah | Wilayah pegunungan, penduduk paling sedikit |
| Mpunda | Menengah | Campuran permukiman dan pertanian |
Potensi Pariwisata dan Budaya
Kota Bima diproyeksikan sebagai penyangga jalur wisata nasional karena posisinya yang strategis di antara Lombok, Labuan Bajo, dan Bal. Pengunjung yang menuju Labuan Bajo kerap transit lewat Bima. Warisan Kesultanan Bima, dengan tokoh Sultan Abdul Qahir, menjadi modal budaya yang terus didorong lewat tarian tradisional, pacuan kuda, dan adat rimpu. Kuliner berbasis ikan segar juga disebut sebagai daya tarik wisata kuliner yang potensial bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pantai Lawata tercatat sebagai destinasi utama dengan kenaikan kunjungan yang signifikan pada periode Januari–Mei 2026 di semua kategori pengunjung. Namun demikian, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kota Bima hingga pertengahan 2026 baru mencapai sekitar 28% dari target Rp1,269 miliar, yang bersumber dari lima jenis retribusi yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pemerintah daerah menyebut pencapaian ini masih wajar karena tahun anggaran baru berjalan separuh periode, sembari terus mendorong optimalisasi festival dan pementasan seni budaya sebagai penggerak sektor perdagangan, kuliner, dan UMKM.
Pada tingkat nasional, Kementerian Dalam Negeri menekankan bahwa penguatan pariwisata daerah, termasuk potensi seperti di Bima membutuhkan ekosistem yang solid: infrastruktur, konektivitas, hospitality, dan city branding yang jelas, termasuk peluang pengembangan sport tourism dan desa wisata sebagai penggerak ekonomi lokal.
Potensi Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan
Sektor pertanian tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dan sumber penghidupan utama sebagian besar penduduk Kota Bima. Lahan sawah di Kota Bima mencapai sekitar 1.923 hektare, terdiri atas sawah irigasi (1.825 ha) dan sawah tadah hujan (98 ha), dengan komoditas andalan berupa padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah.
Di sektor perkebunan, komoditas unggulan meliputi srikaya, kelapa, asam, kemiri, jambu mete, wijen, dan kapuk. Meski pemanfaatannya disebut belum optimal karena skala usaha dan teknologi masyarakat yang masih terbatas. Untuk peternakan, jenis ternak yang dikembangkan warga meliputi sapi, kerbau, kuda, kambing, ayam buras, dan itik.
Potensi Perikanan dan Kelautan
Sebagai kota pesisir, Kota Bima memiliki kegiatan budi daya di perairan laut, payau, dan tawar, dengan komoditas utama bandeng, udang, dan rumput laut. Potensi ini sejalan dengan citra kuliner berbasis ikan segar yang menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner daerah.
Perdagangan, UMKM, dan Ekonomi Kreatif
Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang sekitar 16,66% terhadap PDRB Kota Bima, dengan fasilitas perdagangan tersebar di dua kawasan utama (Kota Bima dan Raba) serta empat pasar umum di Kelurahan Kumbe, Rabangodu, Tanjung, dan Sarae. Pemerintah kota mendorong agar UMKM dapat "menjadi raja di negeri sendiri" dengan masuk ke semua sektor ekonomi, termasuk rantai pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis festival budaya.
Untuk memperkuat basis data pembangunan, Pemerintah Kota Bima mencanangkan Sensus Ekonomi 2026 yang melibatkan pedagang pasar, pemilik warung, usaha rumahan, koperasi, UMKM, hingga perusahaan besar, guna memetakan karakteristik ekonomi tiap kecamatan mulai dari pertanian, industri pengolahan, perdagangan, jasa, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif. Peta ekonomi ini diharapkan membuat intervensi pembangunan lebih tepat sasaran sesuai potensi masing-masing wilayah.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan UMKM yang pesat: jumlah unit usaha naik drastis dari 9.124 unit pada 2020 menjadi 34.923 unit pada 2023 menurut Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bima. Dari sisi komposisi, sektor perdagangan mendominasi kontribusi UMKM terhadap perekonomian kota (41,8%), diikuti kuliner dan jasa (28,3%) serta kerajinan tangan (15,6%), dengan efek limpahan spasial yang turut menggerakkan perekonomian kecamatan-kecamatan sekitarnya. Di luar UMKM, Pelabuhan Laut Bima yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menjadi simpul logistik utama kawasan timur Pulau Sumbawa, disinggahi kapal-kapal besar seperti KM Awu, KM Tatamailau, dan KM Kelimutu, dan berperan penting sebagai pusat bongkar muat barang dari dan menuju Kota Bima serta kabupaten-kabupaten sekitarnya.
Infrastruktur dan Konektivitas
Prasarana jalan di Kota Bima terbagi berdasarkan kewenangan, yaitu jalan negara (33,13 km), jalan provinsi (20,19 km), serta jalan kabupaten/kota yang jaringannya jauh lebih panjang lagi. Konektivitas jalan ini menjadi tulang punggung mobilitas warga sekaligus jalur distribusi hasil pertanian, perikanan, dan produk UMKM ke pasar-pasar utama di dalam kota.
Tantangan dan Prospek 2026
Kajian akademik tentang sektor unggulan Kota Bima mengidentifikasi sejumlah faktor penghambat, di antaranya performa sektor ekonomi lokal yang masih rendah dalam skala ekonomi domestik, minimnya partisipasi ekonomi dari luar daerah, serta kurangnya keterbukaan usaha. Studi lain mengenai Kota Bima sebagai kawasan waterfront city menyimpulkan bahwa persoalan utama pariwisata daerah ini bukan pada kurangnya daya tarik, melainkan pada lemahnya perencanaan berkelanjutan dan minimnya pelibatan masyarakat dalam pengelolaan destinasi.
Ke depan, narasi pembangunan pariwisata Kota Bima banyak disandarkan pada nilai filosofi lokal Maja Labo Dahu, yang diposisikan bukan sekadar warisan budaya, melainkan strategi kultural untuk mewujudkan pariwisata yang maju secara ekonomi namun tetap bermartabat dan berkelanjutan. Dengan penguatan ekosistem, infrastruktur, city branding, kolaborasi lintas sektor, serta digitalisasi promosi. Potensi daerah Kota Bima di bidang pariwisata, pertanian, perikanan, dan ekonomi kreatif memiliki peluang berkembang lebih signifikan pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa sektor ekonomi utama yang menjadi andalan Kota Bima?
Perdagangan, jasa, dan kepelabuhanan adalah tulang punggung perekonomian kota Bima. Tapi sektor penyerap tenaga kerja terbesar adalah sektor pertanian
Destinasi wisata apa yang paling menonjol di Kota Bima?
Pantai Lawata menjadi destinasi utama dengan tren kunjungan yang terus meningkat pada 2026, ditambah daya tarik budaya peninggalan Kesultanan Bima serta kuliner berbasis ikan segar.
Apa tantangan utama pengembangan potensi daerah Kota Bima?
Tantangan utamanya meliputi performa ekonomi lokal yang masih rendah dalam skala domestik, minimnya partisipasi ekonomi luar daerah, keterbukaan usaha yang terbatas, serta perencanaan destinasi wisata yang belum sepenuhnya berkelanjutan dan melibatkan masyarakat.
Berapa jumlah kecamatan di Kota Bima?
Kota Bima terdiri dari 5 kecamatan: Asakota, Raba, Rasanae Barat, Rasanae Timur, dan Mpunda, masing-masing dengan karakteristik ekonomi dan geografis berbeda.
------------------------------
