Strategi Petani Kota Bima Hadapi Kemarau: Dari Pompa Air hingga Rotasi Tanaman
![]() |
| Foto Lahan Pertanian di Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba Kota Bima |
Mediabima.id - KOTA BIMA. Musim kemarau membawa tantangan tersendiri bagi sektor pertanian di Kota Bima. Jika pada musim hujan hampir seluruh hamparan sawah di wilayah ini menghijau oleh tanaman padi, kondisi saat kemarau memaksa para petani untuk memutar otak dan menerapkan strategi yang berbeda demi bertahan hidup dan menjaga produktivitas lahan.
Ketersediaan dan jangkauan akses air menjadi faktor utama yang menentukan nasib sepetak sawah di Kota Bima saat ini. Berikut adalah potret kondisi lapangan dan peta pemanfaatan lahan pertanian di Kota Bima selama musim kemarau.
Peta Pemanfaatan Sawah Berdasarkan Akses Pengairan
Berdasarkan pantauan tim Media Bima di lahan pertanian Kota Bima yang memiliki akses pengairan, tepatnya di Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba Kota Bima ditemukan bahwa sawah yang biasanya hanya ditanami padi pada musim hujan, kini terbagi. Sebagian besar ditanami Padi (sekitar 65%), sebagian ditanami jagung (sekitar 25%) dan sebagian lagi ditanami kedelai (sekitar 10%).
Meskipun ada pengairan tapi, dimusim kemarau seperti saat ini petani butuh usaha ekstra untuk bertani terutama untuk tanaman padi. Hal ini membuat petani untuk mengatur strategi agar lahan pertaniannya bisa tetap produktif.
Kondisi geografis dan kelangkaan air membuat pemanfaatan sawah di Kota Bima dibagi menjadi tiga zona adaptasi utama:
- 1. Zona Padi (Dekat Akses Air): Sawah yang lokasinya berdekatan dengan sumber atau jangkauan pengairan tetap diprioritaskan untuk ditanami padi. Menurut Pak Tani yang tidak ingin dicantumkan namanya; Demi menyiasati kelangkaan air, para petani di zona ini terpaksa mengandalkan mesin pompa air untuk menyedot pasokan dari sumber terdekat agar tanaman padi mereka tidak fuso atau gagal panen.
- 2. Zona Kedelai (Penyangga): Pada lahan sawah yang masih dalam jangkauan pengairan tetapi pasokannya terbatas, petani memilih menanam kedelai setelah musim padi usai. Langkah ini diambil karena kedelai membutuhkan konsumsi air yang jauh lebih sedikit daripada padi.
- 3. Zona Jagung (Lahan Atas/Terdampak Parah): Sawah yang letaknya berada di bagian paling atas atau paling jauh dari akses pengairan dialihkan sepenuhnya untuk ditanami jagung. Komoditas ini terkenal tangguh dan memiliki ketahanan tinggi di lahan kering selama musim kemarau.
Dilema Petani Padi: Biaya Produksi Membengkak
Meskipun pasokan beras lokal Kota Bima relatif aman, para petani padi harus membayar harga mahal untuk mempertahankan tanaman mereka. Ketergantungan pada mesin pompa air memicu konsekuensi finansial yang berat.
Tantangan terbesar petani padi saat kemarau adalah membengkaknya biaya operasional pengairan. Petani harus mengeluarkan dana ekstra untuk:
- Biaya sewa mesin pompa air (bagi yang tidak memiliki alat sendiri).
- Pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berkala agar mesin tetap hidup.
- Biaya perawatan pompa dan tenaga tambahan untuk menjaga aliran air ke sawah.
Beban tambahan ini tentu menggerus margin keuntungan yang bisa dibawa pulang oleh petani saat masa panen tiba nanti.
Sisi Positif: Berkah Rotasi Tanaman Bagi Kesuburan Tanah
Di balik sulitnya akses air, pengalihan komoditas sawah dari padi ke tanaman palawija (kedelai dan jagung) membawa keuntungan jangka panjang bagi ekosistem pertanian Kota Bima.
Sawah yang ditanami selain padi mendapatkan kesempatan emas untuk melakukan rotasi tanaman. Proses perputaran jenis tanaman ini terbukti secara ilmiah mampu memutus siklus hama dan memperbaiki struktur serta unsur hara di dalam tanah. Ketika musim hujan tiba kembali, tanah yang telah dirotasi ini akan jauh lebih subur dan siap menghasilkan padi dengan kualitas yang lebih baik.
Kesimpulan
Pertanian Kota Bima di musim kemarau memperlihatkan kontras yang nyata. Di satu sisi, petani padi harus berjuang dengan modal ekstra akibat pengairan pompa. Di sisi lain, diversifikasi lahan ke jagung dan kedelai menjadi penyelamat ekonomi sekaligus menjaga kesehatan tanah. Langkah adaptasi inilah yang membuat roda pangan di Kota Bima tetap berputar stabil sepanjang tahun.
------------------------------
