Inilah Peran Perempuan Dalam Sektor Pertanian di Kota Bima

Peran Perempuan Dalam Sektor Pertanian di Kota Bima
Foto Ibu Ibu Tani Kota Bima yang sedang Menanam Padi di Sawah. Sumber : Foto Dokumentasi Tim Mediabima.id


Mediabima.id - Kota Bima. Potret Sektor Pertanian Kota Bima Hari Ini. Peran Perempuan Dalam Sektor Pertanian di Kota Bima.

Kota Bima mungkin lebih dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan di ujung timur Pulau Sumbawa, tetapi denyut ekonominya masih sangat bertumpu pada sawah dan ladang. Berdasarkan data Potensi Desa BPS 2024, dari 41 kelurahan yang ada di Kota Bima, 13 di antaranya tercatat mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Infrastruktur pendukungnya pun tergolong memadai untuk ukuran kota kecil: 29 kelurahan telah memiliki saluran irigasi, dan produksi padi Kota Bima pada 2025 tercatat mencapai 20.748 ton gabah kering giling, naik sekitar 2,08 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sebagian wilayah Kota Bima bahkan memiliki jaringan irigasi teknis yang membuat petani tidak lagi harus menunggu musim hujan untuk mulai menanam padi, karena pasokan air bisa diandalkan sepanjang tahun. Komoditas andalan tanaman pangan meliputi padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah, sementara sektor perkebunan mengunggulkan srikaya, kelapa, asam, kemiri, jambu mete, wijen, dan kapuk. Di level yang lebih luas, kawasan Bima baik Kota maupun Kabupaten juga dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah dan jagung terbesar di Nusa Tenggara Barat, bahkan masuk jajaran daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia.

Di balik angka-angka produksi itu, ada satu kelompok pelaku yang kontribusinya sering luput dari sorotan: perempuan. Mulai dari menyiapkan bibit di rumah, menyiangi gulma di sawah, mengolah hasil panen di dapur, hingga menjajakannya di pasar, perempuan Kota Bima hadir di hampir setiap simpul rantai nilai pertanian.


Perempuan di Lini Produksi: Dari Pembibitan sampai Panen

Keterlibatan perempuan dalam pertanian tidak dimulai saat panen tiba, melainkan jauh sebelum benih ditanam. Tahapan produksi pertanian umumnya mencakup persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, penyemaian, perawatan, hingga panen dan di banyak keluarga tani, perempuan terlibat aktif pada hampir seluruh tahapan ini, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian seperti penyemaian bibit dan penyiangan. Selain itu, petani perempuan di Kota Bima juga aktif dalam menanam dan panen.

Pola pembagian kerja berdasarkan gender ini juga terekam dalam kajian terhadap buruh tani di kawasan Bima, yang menemukan bahwa pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti penanaman dan pemanenan cenderung banyak dikerjakan oleh perempuan, bahkan tahapan pascapanen yang menentukan kualitas hasil akhir berada di tangan perempuan. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik lebih berat seperti membajak lebih banyak dilakukan laki-laki. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya peran perempuan dalam pertanian di Bima.

Dalam pemantauan tim Media Bima di salah satu kawasan Pertanian di Kecamatan Raba Kota Bima. Ditemukan aktifitas menanam padi yang utamanya dilakukan oleh perempuan yaitu ibu ibu tani. Aktifitas menanam padi ini dilakukan mulai sekitar jam 6.00 pagi (sebelum matahari terbit) hingga selesai. Penanaman padi ini dilakukan oleh beberapa orang, biasanya satu petak sawah ditanami oleh 3 orang atau lebih tergantung luas sawahnya.

Pembagian tugas dalam kegiatan menanam padi oleh masyarakat di Kota Bima umumnya dilakukan antara lain, bapak tani yang bertugas mengangkut bibit ke sawah dan perempuan / ibu ibu tani yang menanamnya.


Kelompok Wanita Tani (KWT): Wadah Pemberdayaan di Tingkat Kelurahan

Salah satu bentuk paling nyata dari peran perempuan dalam pertanian Kota Bima adalah keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT). Secara umum, KWT berfungsi sebagai wadah pemberdayaan perempuan di wilayah pedesaan maupun perkotaan yang berfokus pada budi daya tanaman di lahan pekarangan, pengolahan hasil panen, penyuluhan, hingga pemasaran produk dengan tujuan akhir memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menambah pendapatan rumah tangga.

Contoh konkretnya bisa dilihat pada KWT Mekar Sari di Kota Bima, yang menjadikan pemanfaatan lahan pekarangan untuk tanaman hortikultura sebagai program utama mulai dari cabai, selada, bayam, terong, kangkung darat, hingga tomat. Sebelum bergabung dengan KWT, banyak ibu rumah tangga anggota kelompok ini justru mengeluarkan biaya lebih untuk membeli sayuran, padahal mereka memiliki pekarangan yang bisa dimanfaatkan sendiri. Melalui pendampingan kelembagaan, pola pikir ini perlahan bergeser: pekarangan yang semula dianggap sekadar halaman rumah kini menjadi sumber penghematan sekaligus tambahan penghasilan keluarga.

Meski begitu, tantangan yang dihadapi anggota KWT bukan hal kecil. Kurangnya pendampingan berkelanjutan untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam memanfaatkan lahan terbatas menjadi kendala utama yang berulang kali muncul dalam evaluasi program pemberdayaan wanita tani.


Dari Dapur ke Pasar: Peran Perempuan dalam Pengolahan dan Pemasaran

Jika pada tahap produksi peran perempuan sering "tersembunyi" di balik nama kepala keluarga sebagai pemilik lahan, pada tahap pengolahan dan pemasaran perannya justru lebih terlihat jelas. Perempuan kerap menjadi perantara yang menjual langsung hasil pertanian ke pasar maupun berjualan keliling, dan dalam banyak kasus mereka pula yang membangun jalur distribusi untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

Mengingat kawasan Bima adalah salah satu sentra bawang merah terbesar di NTB, potensi pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah seperti bawang goreng sangat terbuka lebar. Pola ini juga terlihat di banyak daerah lain: kelompok ibu-ibu, sering kali di bawah payung PKK atau KWT, mengolah bawang merah menjadi bawang goreng kemasan untuk menambah pendapatan keluarga. 

Namun demikian, usaha rumahan semacam ini umumnya masih menghadapi kendala serupa di berbagai daerah: pemasaran yang terbatas pada lingkup lokal karena belum optimal memanfaatkan marketplace, kemasan yang belum menarik dan minim informasi produk, serta belum adanya izin edar seperti SPP-IRT yang membuat jangkauan pasar tetap sempit.

Perempuan juga berperan penting pada sisi konsumsi rumah tangga bukan hanya sebagai penjual, tetapi juga sebagai pengambil keputusan utama soal pangan apa yang dibeli dan dikonsumsi keluarga, yang pada gilirannya memengaruhi permintaan pasar terhadap hasil pertanian lokal.


Tantangan Struktural yang Masih Dihadapi Perempuan Tani

Di balik kontribusi yang begitu luas, perempuan dalam sektor pertanian masih menghadapi sejumlah hambatan struktural yang membuat kontribusi mereka kurang diakui secara formal. Akses terhadap kepemilikan lahan, permodalan, dan pelatihan pertanian masih cenderung lebih terbatas dibandingkan laki-laki, meski beban kerja perempuan di sektor ini tidak kalah besar.

Beberapa tantangan utama yang umum ditemui:

  • Akses lahan dan modal. Sertifikat lahan dan agunan kredit sering tercatat atas nama kepala keluarga, sehingga perempuan sulit mengakses pembiayaan usaha tani atau UMKM olahan secara mandiri.
  • Minimnya pendampingan teknis. Pelatihan penyuluhan pertanian sering kali menyasar kelompok tani reguler yang didominasi laki-laki, sementara KWT kerap mendapat porsi pendampingan yang lebih terbatas.
  • Legalitas produk olahan. Banyak produk olahan rumahan berbasis hasil pertanian belum memiliki izin edar (PIRT) atau sertifikasi halal, sehingga sulit menembus pasar modern maupun e-commerce.
  • Literasi pemasaran digital. Penjualan masih banyak mengandalkan cara konvensional dititipkan di warung atau dijual dari rumah ke rumah karena keterbatasan pengetahuan mengelola akun media sosial atau marketplace untuk bisnis.


Dukungan Pemerintah dan Peluang Penguatan ke Depan

Pemerintah Kota Bima sendiri terus mendorong penguatan sektor pertanian secara umum. Pada 2026, Dinas Pertanian Kota Bima menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi kepada kelompok tani, mulai dari traktor, combine harvester, pompa air, hingga benih jagung untuk ratusan kelompok tani.

Wali Kota Bima juga menegaskan bahwa pendampingan berkelanjutan termasuk soal pemanfaatan teknologi dan akses pemasaran hasil panen dinilai sama pentingnya dengan bantuan alat dan sarana produksi itu sendiri.

Agar dukungan semacam ini benar-benar menjangkau perempuan tani, beberapa arah penguatan yang relevan untuk Kota Bima antara lain:

  • Pelatihan pengolahan dan pengemasan hasil pertanian unggulan (bawang merah, jagung, hasil pekarangan) agar naik kelas menjadi produk UMKM yang layak jual di luar pasar lokal.
  • Fasilitasi legalitas usaha seperti PIRT dan sertifikasi halal bagi kelompok olahan yang dimotori KWT atau PKK.
  • Pendampingan pemasaran digital, termasuk pengelolaan media sosial dan marketplace, agar jangkauan pasar tidak lagi terbatas pada warung dan pasar tradisional.
  • Perluasan akses permodalan mikro yang menyasar langsung anggota KWT dan pelaku usaha olahan rumahan berbasis perempuan.
  • Penguatan kelembagaan KWT di kelurahan-kelurahan berbasis pertanian, sejalan dengan fungsi awalnya sebagai wadah pemberdayaan ekonomi keluarga.


Ringkasan Peran Perempuan di Sepanjang Rantai Nilai Pertanian

Tahapan Aktivitas Utama Peran Perempuan Tantangan Umum
Persiapan Lahan & Bibit Pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, penyemaian Aktif pada penyemaian dan pemilihan bibit yang membutuhkan ketelitian Akses terbatas ke bibit unggul bersertifikat
Penanaman Penanaman bibit/bibit padi di lahan sawah Di Kota Bima, proses penanaman padi umumnya dilakukan oleh perempuan/ibu-ibu Pekerjaan menunduk dalam waktu lama, minim alat bantu tanam
Pemeliharaan Penyiraman, penyiangan gulma, pemupukan Terlibat intensif, terutama penyiangan dan perawatan harian Minim pelatihan teknis budi daya terbaru
Panen & Pascapanen Pemanenan, perontokan, sortasi hasil Banyak mengerjakan proses pemanenan. Beban kerja ganda dengan urusan rumah tangga
Pengolahan Pembuatan produk olahan (bawang goreng, keripik, dll.) Motor utama usaha rumahan berbasis KWT/PKK Belum ada izin edar (PIRT), kemasan sederhana
Pemasaran & Distribusi Penjualan di pasar, keliling, hingga daring Menjadi perantara utama antara produsen dan konsumen Literasi pemasaran digital masih rendah

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Kelompok Wanita Tani (KWT)?

KWT adalah wadah pemberdayaan perempuan di bidang pertanian yang kegiatannya mencakup pemanfaatan lahan pekarangan, budi daya tanaman, pengolahan hasil panen, penyuluhan, hingga pemasaran produk, dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan sekaligus ekonomi keluarga.

Apa komoditas pertanian andalan Kota Bima?

Komoditas tanaman pangan andalan Kota Bima adalah padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah, sementara sektor perkebunan mengunggulkan srikaya, kelapa, asam, kemiri, jambu mete, wijen, dan kapuk. Kawasan Bima secara umum juga dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah terbesar di NTB.

Bagaimana kontribusi perempuan dalam pemasaran hasil pertanian di Bima?

Perempuan sering berperan sebagai perantara penjualan langsung ke pasar atau berjualan keliling, sekaligus membangun jalur distribusi untuk memperluas jangkauan pasar hasil pertanian dan produk olahannya.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi petani perempuan di Kota Bima?

Tantangan utamanya meliputi keterbatasan akses lahan dan modal, minimnya pendampingan teknis khusus untuk kelompok wanita tani, belum lengkapnya legalitas produk olahan, serta rendahnya literasi pemasaran digital.



Foto Penulis
Penulis

Deasy Ferayanti

Warga Lokal asli Bima yang hoby menulis dan telah menjadi penulis blog sejak tahun 2012.


Foto Editor
Editor

Muhammad Akbar

Editor konten yang bertugas memastikan setiap tulisan di blog ini akurat, rapi, dan mudah dipahami.

------------------------------